|
“bu, mana buku iqra-ku? teman-teman dah nyambangin ngaji nih…” waktu aku kecil kau selalu dalam genggamanku ku baca alif ba ta bersama teman-teman di tiap sore menjelang maghrib ku cium disaat pulang kemudian aku menjadi remaja aku sibuk mencari jatidiriku kamu hanya kutemui saat pelajaran agama itu pun kalau aku tidak lupa menaruhmu didalam tas sekolah ketika aku dewasa aku semakin jauh darimu aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku kalaupun aku punya waktu di sela nafasku belum tentu aku membacamu aku lebih suka membaca novel dan cerpen dan aku lebih tertarik membaca koran dari pada qur’an aku pun lebih sering mendengarkan musik dari pada alunanmu meskipun begitu tapi aku tetep ingat kamu kok di saat aku menikah ku jadikan kau sebagai mahar dengan sampul yang indah kuberikan pada calon istriku kemudian kami simpan dalam lemari yang tertata rapi tak terasa usiaku semakin senja dan ajal sepertinya sebentar lagi menjemputku ku ingin banyak-banyak membacamu buat bekal aku mati tapi suaraku sudah parau tak lagi nyaring seperti dulu alif ba ta terasa sulit terucap dari mulutku tajwid nya saja aku dah lupa jangankan membaca dengan tartil melihatmu tulisanmu pun mataku sudah tidak sanggup belum sempat 1 juz ajal menghampiriku dunia kubur terasa gelap kata ustadz “amalan-amalan kita akan menemani kubur kita” aku mencoba mencarimu tuk kujadikan cahaya kuburku karena aku pikir aku pernah membacamu meski cuma sesaat tapi kenapa semua tetap gelap “dimana kau?” Kata malaikat “amalan-mu telah luluh oleh dosa-dosamu” Sambil menangis aku pun berkata “dimana dia? Aku ingin membacanya sekali saja” Hanya ada sesalku dalam dikuburku “maafkan aku wahai qur’anku” |
| Leave a Comment: |