 |
INNA SHOLAATI WA NUSUKI WA MAHYAAYA WA MAMAATI LILLAAHI ROBBIL 'AALAMIN, LAA SYARIIKALAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA AWWALUL MUSLIMIIN.
"Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya: dan itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)."
(QS. Al An'am 162 - 163)
sesungguhnya manusia dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang percaya, dan membuat kerja-kerja kebaikan, dan saling berwasiat pada yang benar, dan saling berwasiat untuk bersabar
(QS. Al-Ashr 1-3)
Tak semua apa yang telah kita lewati bisa terwakili oleh goresan pena. Kumpulan warna, garis, titik, kurva membentuk sekumpulan gambar. Meskipun nampak diam namun sebenarnya mereka bisa berbicara seperti pena bicara lewat goresannya....
Yogya Tempo Doeloe 1
Yogya Tempo Doeloe 2
dunia ini tak cuma sebatas daun kelor, terlalu banyak yang tidak kita ketahui diluar sana, cobalah untuk membuka rumah dunia
Komunitas Satra
Secercah Cahaya
serangkaian pena tentunya akan menhasilkan karya yang lebih indah dari pada sepotong pena
Annisa
Ivandini
Rohmat
mainkan pena anda untuk merajut ukhuwah berbagi tawa-tangis, sedih-bahagia, suka-duka
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
Dec 13, 2004
Keheningan malam terus merambat,
Hatiku kaku membeku,
Aku pun terpaku,
Lolong serigala terus terdengar,
Melewati lembah,
Sibuk mencari darah,
Maut semakin dekat,
Pada jiwa yang sekarat,
Ku hanya bisa coba tuk berlari,
Ya Allah,
Adakah pintu taubat untukku,
Berpalingkah engkau dariku....
Posted at 11:24 pm by aliefwanaya
Permalink
Bom itu meledak tp lebih tepatnya di ledakkan oleh orang yang bertanggung jawab tapi mungkin dia tidak menanggung jawab di dunia tapi di akhirat nanti, Ali ra pernah berkata kalaupun ada seseorang lepas dari pedang dunia tak mungkin dia bisa lepas dari pedang akhirat...
Ketika aku duduk dibangku sekolah dasar selalu ku dengar deretan kata-kata indah yang membuatku bangga dan bersyukur karena lahir disini bahwa bangsa indonesia itu "subur-makmur, titi tentrem kertoraharjo"
Tapi itu dulu yakni ketika aku lihat padi menghijau di sesawahan
Tapi itu dulu yakni ketika aku mendengar lagu kus plus bahwa lautan kita ini laksana susu dan bahkan kayu di lempar pun jadi tanaman
Tapi itu dulu yakni ketika aku lihat anak-anak berangkat ke sekolah dengan tawa riang
Tapi itu dulu yakni ketika aku belum mengenal penggusuran
Tapi itu dulu ketika aku belum mengenal bom yg jebluk kapan dan dimanapun
Tapi itu dulu.... dulu sekali...
Sekarang ibu pertiwi menangis, melihat anak-anak nya seperti saat ini:
tanah mengering,
laut meradang karena terinfeksi polutan,
pendidikan menjadi laksana burung camar yang terbang tinggi,
rasa aman yang menjadi barang mahal,rasa nyaman yang menjadi sesuatu yang langka,
Ya Allah kenapa Kau jadikan negeri ini menjadi ini,
Tak ada lagi Merahnya senja yang ada hanya darah yg berceceran
Tawa menghilang digantikan tangisCanda pergi dan yang tinggal hanya pilu
Tentram lenyap yang muncul hanya kegelisahan
Ya Allah lakon apa yang kau mainkan untuk kami....
Ya Allah berilah cahayamu
Terangilah hati para pemimpin kami
Hingga hitam dan putih nampak di mata hati mereka
(sebuah catatan untuk bom kuningan 9 september 2004)
Posted at 11:11 pm by aliefwanaya
Permalink
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|