Kenangan dalam hidup yang telah kita lewati tentunya terlalu berharga untuk dilupakan. Bagaimanapun perjalanan hidup kita yang kadang silih berganti antara suka dan duka, itu semua adalah bagian dari lukisan kehidupan yang tidak di batasi oleh dimensi panjang dan lebar melainkan dibatasi oleh dimensi waktu. Otak ini terlalu kecil untuk menyimpan semua kenangan-kenangan tersebut tapi dengan bantuan sebuah pena kita bisa membantu mengingat itu semua..
oleh karena itu.......biarkan pena itu terus menari





INNA SHOLAATI WA NUSUKI WA MAHYAAYA WA MAMAATI LILLAAHI ROBBIL 'AALAMIN, LAA SYARIIKALAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA AWWALUL MUSLIMIIN.
"Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya: dan itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)."
(QS. Al An'am 162 - 163)

sesungguhnya manusia dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang percaya, dan membuat kerja-kerja kebaikan, dan saling berwasiat pada yang benar, dan saling berwasiat untuk bersabar
(QS. Al-Ashr 1-3)
ikatlah ilmu dengan menulisnya
<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

Tak semua apa yang telah kita lewati bisa terwakili oleh goresan pena. Kumpulan warna, garis, titik, kurva membentuk sekumpulan gambar. Meskipun nampak diam namun sebenarnya mereka bisa berbicara seperti pena bicara lewat goresannya....
  • Yogya Tempo Doeloe 1
  • Yogya Tempo Doeloe 2
  • dunia ini tak cuma sebatas daun kelor, terlalu banyak yang tidak kita ketahui diluar sana, cobalah untuk membuka rumah dunia
  • Komunitas Satra
  • Secercah Cahaya
    serangkaian pena tentunya akan menhasilkan karya yang lebih indah dari pada sepotong pena
  • Annisa
  • Ivandini
  • Rohmat
    mainkan pena anda untuk merajut ukhuwah berbagi tawa-tangis, sedih-bahagia, suka-duka


  • rss feed

    Dec 13, 2004
    Kalut

    Keheningan malam terus merambat,
    Hatiku kaku membeku,
    Aku pun terpaku,

    Lolong serigala terus terdengar,
    Melewati lembah,
    Sibuk mencari darah,

    Maut semakin dekat,
    Pada jiwa yang sekarat,
    Ku hanya bisa coba tuk berlari,

    Ya Allah,
    Adakah pintu taubat untukku,
    Berpalingkah engkau dariku....



    Posted at 11:24 pm by aliefwanaya
    Make a comment  

    Dar..der.....dorrr

    Bom itu meledak tp lebih tepatnya di ledakkan oleh orang yang bertanggung jawab tapi mungkin dia tidak menanggung jawab di dunia tapi di akhirat nanti, Ali ra pernah berkata kalaupun ada seseorang lepas dari pedang dunia tak mungkin dia bisa lepas dari pedang akhirat...

    Ketika aku duduk dibangku sekolah dasar selalu ku dengar deretan kata-kata indah yang membuatku bangga dan bersyukur karena lahir disini bahwa bangsa indonesia itu "subur-makmur, titi tentrem kertoraharjo"

    Tapi itu dulu yakni ketika aku lihat padi menghijau di sesawahan
    Tapi itu dulu yakni ketika aku mendengar lagu kus plus bahwa lautan kita ini laksana susu dan bahkan kayu di lempar pun jadi tanaman
    Tapi itu dulu yakni ketika aku lihat anak-anak berangkat ke sekolah dengan tawa riang
    Tapi itu dulu yakni ketika aku belum mengenal penggusuran
    Tapi itu dulu ketika aku belum mengenal bom yg jebluk kapan dan dimanapun
    Tapi itu dulu.... dulu sekali...

    Sekarang ibu pertiwi menangis, melihat anak-anak nya seperti saat ini:
    tanah mengering,
    laut meradang karena terinfeksi polutan,
    pendidikan menjadi laksana burung camar yang terbang tinggi,
    rasa aman yang menjadi barang mahal,rasa nyaman yang menjadi sesuatu yang langka,

    Ya Allah kenapa Kau jadikan negeri ini menjadi ini,
    Tak ada lagi Merahnya senja yang ada hanya darah yg berceceran
    Tawa menghilang digantikan tangisCanda pergi dan yang tinggal hanya pilu
    Tentram lenyap yang muncul hanya kegelisahan

    Ya Allah lakon apa yang kau mainkan untuk kami....
    Ya Allah berilah cahayamu
    Terangilah hati para pemimpin kami
    Hingga hitam dan putih nampak di mata hati mereka

    (sebuah catatan untuk bom kuningan 9 september 2004)


    Posted at 11:11 pm by aliefwanaya
    Make a comment  

    Previous Page