Kenangan dalam hidup yang telah kita lewati tentunya terlalu berharga untuk dilupakan. Bagaimanapun perjalanan hidup kita yang kadang silih berganti antara suka dan duka, itu semua adalah bagian dari lukisan kehidupan yang tidak di batasi oleh dimensi panjang dan lebar melainkan dibatasi oleh dimensi waktu. Otak ini terlalu kecil untuk menyimpan semua kenangan-kenangan tersebut tapi dengan bantuan sebuah pena kita bisa membantu mengingat itu semua..
oleh karena itu.......biarkan pena itu terus menari





INNA SHOLAATI WA NUSUKI WA MAHYAAYA WA MAMAATI LILLAAHI ROBBIL 'AALAMIN, LAA SYARIIKALAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA AWWALUL MUSLIMIIN.
"Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya: dan itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)."
(QS. Al An'am 162 - 163)

sesungguhnya manusia dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang percaya, dan membuat kerja-kerja kebaikan, dan saling berwasiat pada yang benar, dan saling berwasiat untuk bersabar
(QS. Al-Ashr 1-3)
ikatlah ilmu dengan menulisnya
<< January 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

Tak semua apa yang telah kita lewati bisa terwakili oleh goresan pena. Kumpulan warna, garis, titik, kurva membentuk sekumpulan gambar. Meskipun nampak diam namun sebenarnya mereka bisa berbicara seperti pena bicara lewat goresannya....
  • Yogya Tempo Doeloe 1
  • Yogya Tempo Doeloe 2
  • dunia ini tak cuma sebatas daun kelor, terlalu banyak yang tidak kita ketahui diluar sana, cobalah untuk membuka rumah dunia
  • Komunitas Satra
  • Secercah Cahaya
    serangkaian pena tentunya akan menhasilkan karya yang lebih indah dari pada sepotong pena
  • Annisa
  • Ivandini
  • Rohmat
    mainkan pena anda untuk merajut ukhuwah berbagi tawa-tangis, sedih-bahagia, suka-duka


  • rss feed

    Jan 11, 2005
    My Qur'an


    “bu, mana buku iqra-ku? teman-teman dah nyambangin ngaji nih…”

    waktu aku kecil kau selalu dalam genggamanku

    ku baca alif ba ta bersama teman-teman

    di tiap sore menjelang maghrib

    ku cium disaat pulang

    kemudian

    aku menjadi remaja

    aku sibuk mencari jatidiriku

    kamu hanya kutemui saat pelajaran agama

    itu pun kalau aku tidak lupa menaruhmu didalam tas sekolah

    ketika aku dewasa aku semakin jauh darimu

    aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku

    kalaupun aku punya waktu

    di sela nafasku

    belum tentu aku membacamu

    aku lebih suka membaca novel dan cerpen

    dan aku lebih tertarik membaca koran dari pada qur’an

    aku pun lebih sering mendengarkan musik dari pada alunanmu

    meskipun begitu tapi aku tetep ingat kamu kok

    di saat aku menikah ku jadikan kau sebagai mahar

    dengan sampul yang indah kuberikan pada calon istriku

    kemudian kami simpan dalam lemari

    yang tertata rapi

    tak terasa usiaku semakin senja

    dan ajal sepertinya sebentar lagi menjemputku

    ku ingin banyak-banyak membacamu

    buat bekal aku mati

    tapi suaraku sudah parau

    tak lagi nyaring seperti dulu

    alif ba ta terasa sulit terucap dari mulutku

    tajwid nya saja aku dah lupa

    jangankan membaca dengan tartil

    melihatmu tulisanmu  pun mataku sudah tidak sanggup

    belum sempat 1 juz ajal menghampiriku

    dunia kubur terasa gelap

    kata ustadz “amalan-amalan kita akan menemani kubur kita”

    aku mencoba mencarimu tuk kujadikan cahaya kuburku

    karena aku pikir aku pernah membacamu meski cuma sesaat

    tapi kenapa semua tetap gelap

    “dimana kau?”

    Kata malaikat “amalan-mu telah luluh oleh dosa-dosamu”

    Sambil menangis aku pun berkata “dimana dia? Aku ingin membacanya sekali saja”

    Hanya ada sesalku dalam dikuburku

    “maafkan aku wahai qur’anku”


    Posted at 05:10 pm by aliefwanaya

     

    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry Home Next Entry